Istikhoroh...

Biarlah jilbab itu terus membungkus wajahmu,
Ku tahu kecantikanmu jauh mengakar di dalam hati,

Gus Muhib seperti biasa akan menulis syair-syair indah di kamarnya. Selepas musyawaroh adalah waktu yang tepat untuk mengunci diri di kamar. Membiarkan jendela di kamarnya terbuka dan dengan leluasa angin malam menginspirasi. Baru beberapa hari setelah liburan, jadi kamarnya masih sepi. Santri kamarnya terkenal mbeling-mbeling menambah waktu liburan sesuka hati.

Satu orang  lagi di ruangan itu, namun tampaknya ia tak mengerti cinta. Tidurnya pulas tak terganggu oleh syair-syair indah yang sesekali keluar dari mulut Gus Muhib, ataupun dengan dinginnya udara yang bergantian memenuhi kamar. Sementara Gus Muhib, masih asyik dengan pekerjaanya. Sesekali dahinya berkerut karena ia menciptakan kata-kata yang menurutnya kurang bagus. Diremasnya kertas-kertas itu kemudian ia lemparkan sembarangan mengotori kamar yang sempit.

(-_-)

Ketika ia bangun kamar sudah sepi. Jam tujuh seperti ini tentu Gus Muhib sudah berangkat ngaji. Sedangkan dirinya masih harus berjuang membuka matanya itu. Kebiasaan buruk bertahun-tahun yang paling ingin ia hindari namun tak kunjung berhasil. Tidur setelah shubuh.

“Jangan tidur habis shubuh, menjadikan fakir harta maupun ilmu”

Yai pernah bilang seperti itu dan ia ingat betul. Ia paksakan berdiri karena kali ini ia berniat madrasah. Masih sedikit mengantuk ketika ia memilih berjalan memutar melewati bagian belakang pondok. Tentu ia tak ingin dirinya menjadi bahan perhatian jika harus lewat aula.

“Nekat sedikit ah, daripada malu…baru sekali ini juga”, pikirnya. Santri putra memang dilarang lewat belakang pondok karena jalan itu biasa dilalui santri putri yang rewang di rumahnya Yai. Bagi yang melanggar hukuman jelas menanti.

Langkahnya sedikit terburu-buru memanfaatkan suasana yang sedang sepi. Namun, baru saja ia keluar dari pintu belakang, oppps… ia bertubrukan dengan seseorang dan membuatnya jatuh terjerembab.

Ketika ia membuka mata, seorang santri putri jatuh di depannya. Sedangkan dua santri yang lain berusaha menolongnya. Sesaat ia melihat wajah santri itu, dan mungkin mulai sejak saat itu ia berkenalan dengan cinta. Sempat juga ia perhatikan tanda pengenal di bawah bros yang menghiasi jilbabnya. Tampaknya ia baru saja selesai ngaji. Setelah terdiam beberapa saat ia segera pergi, begitu juga dengan ketiga santri putri itu. Tidak baik berlama-lama karena jika ketahuan tentu bukan sesuatu yang baik.

(-_-)

“Sudah ku-Istikhorohi tapi kok ndak muncul-muncul juga wajahmu”, tiba-tiba Gus Muhib memecah keheningan.
“Emang siapa to Gus?”, Tanya seorang laki-laki hitam dan kurus di sampingnya.
Gus Muhib tidak langsung menjawab pertanyaan temannya itu, melainkan memilih meminum kopi yang ada di depannya. Tapi tak berapa lam kemudian menjawab singkat, “Hanah…”
“Siapa lagi itu Gus, cewek yang mana lagi ini?”
“Kali ini aku serius, Hir. Itu yang nderek Yai. Biasanya juga lewat bawah jendela ini”, terang gus Muhib yang membuatnya terdiam sejenak. Ia berusaha mengingat-ingat sesuatu. Ya, itu nama yang tertera pada tanda pengenal santri putri yang ia tubruk tadi.
“Mungkin sholatnya njenengan masih kurang, Gus”, ia menjawab sekenanya karena pikirannya melayang membayangkan wajah wanita itu.
“Aku sudah berkali-kali he, Hir…”, balas gus Muhib sambil memandangi gelas kopi yang telah kosong di depannya. Sekosong hatinya…
“La, sholat Istikhoroh-nya itu gimana?”
“La ngopo, mau ngejalanin to? Sudah punya gebetan to kamu?”
“Mosok mau belajar harus nunggu punya gebetan, Gus…”
“La wong kamu ngaji jarang masuk, dua rokaat seperti sholat sunnah biasa…”, jawab gus Muhib sembari ketawa.
“Di catat saja Gus”
“Weleeeeh, yowis, mana polpennya?”, gus Muhib mengcaungkan tanggannya meminta bolpoint.
“Pake punya njenengan saja, sudah lama aku nggak punya bolpoint”¸jawabnya meringis. Terang saja selama ini ia memang paling malas mencatat pelajaran-pelajaran yang ia terima di pondok.

Gus Muhib tertawa namun kemudian mengalah beranjak mengambil bolpoint miliknya. “Di kertas ini saja gus, gak papa walaupun kucel, nanti tak hapalin”, ia menyerahkan kertas kucel yang ia pungut dari salah satu sudut ruangan.

Gus Muhib menulis beberapa kalimat kemudian menyerahkan kepada temannya itu. Sang teman tertawa lebar, “matur nuwun, Gus”

(-_-)

Sudah tiga hari sejak saat itu, dan ketika ia terbangun ia masih juga belum percaya dengan hasil Istikhoroh-nya. Meski agak samar, ia bisa mengenali betul wajah Hanah yang hadir dalam mimpinya tiga hari itu. Namun kali ini ia mulai mantap bahwa istikhoroh-nya membuahkan hasil. Dengan semangat kali ini ia berangkat ngaji.

“Pak Yai prihatin karena sekarang itu santri mulai terkena virus-virus yang dinamakan pacaran”, seorang ustadz senior memberi intermezzzzzo sejenak di tengah-tengah pelajaran. Ia memberi waktu sejenak untuk bernafas, kemudian melanjutkan, “Nah, karena saking banyaknya kasus, akhirnya mulai sekarang santri putra yang ketahuan pacaran dengan santri putri, langsung akan di-ijab-kan”

Sebagian santri ngeri juga dengan peraturan itu. Tak terkecuali Gus Muhib. Kekhawatiran muncul di benak beberapa santri yang memang diam-diam pacaran dengan santri putri.

Jam setengah dua belas madrasah selesai. Santri diberi waktu istirahat untuk makan atau sekedar buang hajat sebelum kembali beraktivitas jamaah Sholat Dzuhur. Sebagian memilih nderes di Musholla, dan tidak sedikit yang kembali ke kamarnya. Sementara itu, di kamar Gus Muhib…

“Gus, sebentar lagi aku akan bertindak…”
Gus Muhib keheranan dengan tingakh laku temannya yang dari tadi celingak-celinguk dari jendela.
“Kamu kenapa, Hir? Nunggu santri putri lewat ya?”
“Sudah tenang saja, Gus…”, masih sibuk melongok-longok di bibir jendela, “Nah… itu dia”
Tiga orang santri putri lewat bawah kamar mereka. Dan dengan cepat teman gus Muhib yang biasa dipanggil Har Hir Har Hir itu melempar salah seorang santri putri dengan gumpalan kertas.

Santri putri yang kaget itu segera menoleh ke atas, dan Har Hir Har Hir itu memberikan senyum paling manis yang pernah dibuatnya. Sementara Gus Muhib lebih seperti orang yang kebingungan karena santri putri itu adalah Hanah yang diidam-idamkannya.

Hanah membuka kertas itu dan membacanya tanpa bersuara,

Jendela ini bisa membuka dan menutup
Tapi Hanah, hatiku selalu terbuka untukmu

Jawahir

Dari atas Gus Muhib bisa melihat jelas bahwa kedua baris itu adalah syair tulisannya. Agak kesal ia perhatikan Jawahir disampingnya. Syair yang dianggapnya gagal itu ternyata diambil temannya itu. Dan mengapa pula harus ada nama Jawahir di bawahnya, mengapa pula wanita itu adalah Hanah yang menjadi idamannya?

“Hir, Hanah itu lah yang aku maksud waktu itu”, bisik Gus Muhib geram.
“Waduh Gus, berarti njenengan memang bukan jatahnya. Istikhroh njenengan gak tembus seperti punya saya. Jangan salahkan saya kalau gitu”
“Tapi, Hir, masalahnya…”
“Masalahnya apa Gus? Masih banyak yang mau sama njenengan, dan juga njenengan kan udah ada calon dirumah, biarlah njenengen stop jadi playboy, kali ini hadiah Alloh buat saya”
“Tunggu dulu Hir, masalahnya… masak saya kalah sama kamu?”

Jawahir tertawa, Gus Muhib pun terpaksa tertawa. Dan tanpa mereka sadari dari jauh salah satu keamanan pondok berlari dan menangkap basah mereka, dan santri-santri putri itu.

“Peraturan baru, kok sudah dilanggar…Ijab.. Ijab…”

Saat itu juga mereka di bawa kehadapan mbah yai. Sesuai dengan peraturan yang baru saja berlaku, Jawahir akan dinikahkan dengan hanah yang sebenarnya sangat shock dan tidak tahu apa-apa tentang rencana itu.

“Kalau boleh Yai…”, Jawahir berkata pelan.
“Iya, Kang, Onopo?”
“Biar Hanah membaca lagi keseluruhan isi surat itu, yang baliknya kan belum dibaca…saya gak mau Hanah terpaksa”
“Terpaksa? Emang isinya apa? Yowis tak kabulkan…”, mbah Yai menjawab kalem dan tenang.

Dan ketika lembaran kertas itu dibalik. Mbah Yai dan yang lain dibuat manggut-manggut-mangkel oleh Jawahir. Sementara satu orang lain, yakni gus Muhib makin jengkel-jengkelan karena dibalik syair itu adalah tata cara dan doa sholat Istikhoroh yang beberapa waktu lalu dituliskannya untuk Jawahir.

“Aku nggak ngapusi, Gus. Bener-bener tak buat ngafalin, kebetulan aja syair di baliknya ada tulisan Hanahnya… Jadi ya bener-bener pas... Ikhlasin ya, aku yakin ntar pas dia istikhoroh juga wajahku ini yang bakal keluar...hahaha”

mringise jawahir mringis paling elek sedunia... tur mangkeli... 

----

benar saja semuanya berjalan lancar menurut rencana,
sekali cinta itu datang ia langsung siap ke pelaminan, dan ternyata Alloh memang punya rencana seperti itu...

Jodoh... jodoh...

karya: Muhammad Hidayatullah

1 Komentar

  1. lo lo looo
    jawahirr jawahirr julaibib julaibib....

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama